Seharusnya pertandingan sepakbola bisa dinikmati dengan nyaman, tenang, tanpa rasa was-was menjadi korban kekerasan siapapun. Tidak peduli kesebelasan mana yang bertanding. Tapi di Bandung lain. Seringkali pertandingan Persib Bandung malah menjadi semacam teror mengerikan bagi warga kota. Mau Persib kalah atau menang, tetap saja berpotensi terjadi kericuhan.
Hari Minggu kemarin (20/7) saat Persib ditekuk Persija 2-3, saya melihat pusat-pusat pertokoan dan jalan-jalan utama di Kota Bandung begitu mencekam. Toko-toko tutup, banyak mobil menjadi korban perusakan terutama yang berpelat nomor B (Jakarta), kaca-kaca bangunan berantakan, orang-orang merasa terancam keselamatannya. Bobotoh yang mengaku pendukung berat Persib Bandung telah menebar ketakutan massal.
Dalam bahasa Sunda, bobotoh itu artinya pendukung, suporter. Nah orang-orang seperti itu, yang melakukan perusakan, tidak pantas lagi disebut sebagai pendukung. Mereka adalah para pelaku kriminal, pengacau, pembuat onar. Tindakan mereka bukanlah cermin dukungan, namun justru merusak Persib, merusak Bandung.
Memang pada akhirnya kita sulit membedakan, pesta kemenangan atau ungkapan kekecewaan karena Persib kalah. Sebab pada kenyataannya, dalam dua suasana berbeda tersebut seringkali kerusakan terjadi. Bobotoh tetap saja bertindak anarkis dalam mengungkapkan emosi mereka. Mereka tek lebih dari sekelompok pengacau.
Ada apologia dari Ketua Umum Viking, Heru Joko. Pimpinan salah satu organisasi bobotoh Persib itu menyatakan, apa yang terjadi hari Minggu lalu merupakan bencana. Bobotoh mengamuk merupakan akumulasi dari kekcewaan. Antara lain karena kepemimpinan wasit yang dinilai tidak fair, juga ada masalah pada peredaran tiket. Heru menganggap kekecawaan yang berujung kekacauan itu wajar.
Saya tidak setuju dengan argumen yang dikemukakan Heru Joko. Itu adalah argumen basi yang sering dikemukakan setiap kali bobotoh mengamuk. Argumen seperti itu juga seolah memberi angin pada kelakuan brutal bobotoh dan pembenaran atas tindakan-tindakan mereka.
Akal sehat kita bertanya: Apakah persoalan wasit yang dianggap tidak profesional dan peredaran tiket yang mengecewakan, harus dijawab dengan tindakan kekerasan? Jika cara berpikir seperti ini yang dipakai, maka Kota Bandung lambat laun akan menjadi kota yang tidak lagi bersahabat setiap kali ada pertandingan Persib.
Jika logika yang dipakai adalah logika pimpinan Viking, maka kita juga bisa memberi kesimpulan sebagai jalan keluar. Selama wasit dianggap tidak profesional, selama peredaran tiket bermasalah, selama kapasitas Stadion Siliwangi tidak memadai, maka di Kota Bandung dan sekitarnya dilarang keras ada pertandingan Persib. Sebab jika dipaksakan ada pertandingan, ujung-ujungnya kerusuhan.
Saya sangat setuju jika PSSI memberikan sanksi lebih berat lagi kepada Persib Bandung. Sebab kejadian ini bukan yang pertama kali. Tapi sanksinya jangan cuma gertak sambal. Ngomongnya seperti yang serius: sanksi sekian kali tidak boleh bertanding di kandang sendiri, pertandingan tanpa penonton, dan sebagainya. Eh setelah dilobi ini itu, PSSI langsung melunak. Kita bisa melihat bagaimana sikap plin-plan PSSI selama ini dalam menghadapi kasus-kasus di dunia sepakbola.
Saya setuju kalau di Bandung untuk sementara jangan ada pertandingan Persib melawan manapun. Panpel Persib jangan cuma menghitung untung rugi dari penjualan tiket, tapi juga harus mempertimbangkan kenyamanan warga kota. Sekaligus memberi pelajaran kepada para pengacau yang berlindung di balik nama bobotoh.
Aparat kepolisin juga harus bertindak lebih tegas. Mereka yang tertangkap tangan melakukan perusakan, proses secara hukum. Jangan kayak selama ini, ditahan tapi esok lusa dilepaskan. Supaya bobotoh juga berpikir, mereka tidak kebal hukum. Pada kerusuhan kemarin, yang ditangkap cuma tiga orang. Seharusnya lebih banyak dari itu.
Masih lebih banyak lagi warga Bandung yang merindukan kenyamanan hidup ketimbang cuma urusan sepakbola. Kalau bobotoh belum siap menerima kekalahan Persib, jangan pernah berpikir di Bandung ada pertandingan sepakbola. Saya bukan antisepakbola. Tapi anti pada pada kekacauan yang ditimbulkan akibat sepakbola. Kita lihat saja apa yang akan diperbuat PSSI.***
Hari Minggu kemarin (20/7) saat Persib ditekuk Persija 2-3, saya melihat pusat-pusat pertokoan dan jalan-jalan utama di Kota Bandung begitu mencekam. Toko-toko tutup, banyak mobil menjadi korban perusakan terutama yang berpelat nomor B (Jakarta), kaca-kaca bangunan berantakan, orang-orang merasa terancam keselamatannya. Bobotoh yang mengaku pendukung berat Persib Bandung telah menebar ketakutan massal.
Dalam bahasa Sunda, bobotoh itu artinya pendukung, suporter. Nah orang-orang seperti itu, yang melakukan perusakan, tidak pantas lagi disebut sebagai pendukung. Mereka adalah para pelaku kriminal, pengacau, pembuat onar. Tindakan mereka bukanlah cermin dukungan, namun justru merusak Persib, merusak Bandung.
Memang pada akhirnya kita sulit membedakan, pesta kemenangan atau ungkapan kekecewaan karena Persib kalah. Sebab pada kenyataannya, dalam dua suasana berbeda tersebut seringkali kerusakan terjadi. Bobotoh tetap saja bertindak anarkis dalam mengungkapkan emosi mereka. Mereka tek lebih dari sekelompok pengacau.
Ada apologia dari Ketua Umum Viking, Heru Joko. Pimpinan salah satu organisasi bobotoh Persib itu menyatakan, apa yang terjadi hari Minggu lalu merupakan bencana. Bobotoh mengamuk merupakan akumulasi dari kekcewaan. Antara lain karena kepemimpinan wasit yang dinilai tidak fair, juga ada masalah pada peredaran tiket. Heru menganggap kekecawaan yang berujung kekacauan itu wajar.
Saya tidak setuju dengan argumen yang dikemukakan Heru Joko. Itu adalah argumen basi yang sering dikemukakan setiap kali bobotoh mengamuk. Argumen seperti itu juga seolah memberi angin pada kelakuan brutal bobotoh dan pembenaran atas tindakan-tindakan mereka.
Akal sehat kita bertanya: Apakah persoalan wasit yang dianggap tidak profesional dan peredaran tiket yang mengecewakan, harus dijawab dengan tindakan kekerasan? Jika cara berpikir seperti ini yang dipakai, maka Kota Bandung lambat laun akan menjadi kota yang tidak lagi bersahabat setiap kali ada pertandingan Persib.
Jika logika yang dipakai adalah logika pimpinan Viking, maka kita juga bisa memberi kesimpulan sebagai jalan keluar. Selama wasit dianggap tidak profesional, selama peredaran tiket bermasalah, selama kapasitas Stadion Siliwangi tidak memadai, maka di Kota Bandung dan sekitarnya dilarang keras ada pertandingan Persib. Sebab jika dipaksakan ada pertandingan, ujung-ujungnya kerusuhan.
Saya sangat setuju jika PSSI memberikan sanksi lebih berat lagi kepada Persib Bandung. Sebab kejadian ini bukan yang pertama kali. Tapi sanksinya jangan cuma gertak sambal. Ngomongnya seperti yang serius: sanksi sekian kali tidak boleh bertanding di kandang sendiri, pertandingan tanpa penonton, dan sebagainya. Eh setelah dilobi ini itu, PSSI langsung melunak. Kita bisa melihat bagaimana sikap plin-plan PSSI selama ini dalam menghadapi kasus-kasus di dunia sepakbola.
Saya setuju kalau di Bandung untuk sementara jangan ada pertandingan Persib melawan manapun. Panpel Persib jangan cuma menghitung untung rugi dari penjualan tiket, tapi juga harus mempertimbangkan kenyamanan warga kota. Sekaligus memberi pelajaran kepada para pengacau yang berlindung di balik nama bobotoh.
Aparat kepolisin juga harus bertindak lebih tegas. Mereka yang tertangkap tangan melakukan perusakan, proses secara hukum. Jangan kayak selama ini, ditahan tapi esok lusa dilepaskan. Supaya bobotoh juga berpikir, mereka tidak kebal hukum. Pada kerusuhan kemarin, yang ditangkap cuma tiga orang. Seharusnya lebih banyak dari itu.
Masih lebih banyak lagi warga Bandung yang merindukan kenyamanan hidup ketimbang cuma urusan sepakbola. Kalau bobotoh belum siap menerima kekalahan Persib, jangan pernah berpikir di Bandung ada pertandingan sepakbola. Saya bukan antisepakbola. Tapi anti pada pada kekacauan yang ditimbulkan akibat sepakbola. Kita lihat saja apa yang akan diperbuat PSSI.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar